Sejarah dan metode ilmu keislaman klasik ( metodologi studi islam)
Penulis buku = Dr. Ismail Yahya, MA
Judul buku = Sejarah dan Metode Ilmu-Ilmu Keislaman
di Masa Klasik
Tahun terbit = 2015
Penerbit = Fakultas Syariah
Kota terbit = Surakarta
METODOLOGI STUDY ISLAM
Sejarah dan metode ilmu keislaman klasik
I. ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
1. Dorongan Islam Mencari Ilmu Pengetahuan
Penyebab timbul dorongan Islam mencari sebuah ilmu pengetahuan yaitu Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Di dalam Al Quran, Allah SWT berfirman bahwa siapapun yang mau mencari ilmu maka akan ditunjukan jalan menuju surga-NYA. Dengan dorongan tersebut para umat islam akan tergugah hatinya dan timbul motivasi diri untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Meski suka, duka, dan penuh perjuangan mereka rela untuk berkorban demi mendapatkan sebuah ilmu. Karena ilmu itu sangat bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak. Mencari Ilmu itu sama saja dengan kita berjihad di jalan Allah SWT.
2. Pusat Pengetahuan dan Pendidikan Islam
a) Wilayah Timur ( Madinah, Syam, Baghdad, Persia, Mesir)
b) Wilayah Barat ( Cordova )
3. Organisasi Pendidikan Islam
a) Halaqah
Sebuah pembelajaran yang dalam pengkajiannya duduk secara melingkar membentuk setengah lingkaran, dengan seorang guru yang duduk di tengah-tengahnya menggunakan mimbar atau bantal. Dalam Halaqah metode pembelajaran yang dilakukan yaitu dengan dikte. Dikte yaitu guru menyampaikan dengan ucapan namun para muridnya menulis apa yang di katakan gurunya.
b) Maktab atau Kuttab (Sekolah Menulis)
Sebuah pembelajaran yang dilakukan di rumah guru, dengan membaca maupun menulis disebut dengan Maktab. Di Maktad siswa diajarkan membaca Al Quran, puisi, agama, hitung menghitung hingga berenang serta menunggang kuda.
c) Sekolah istana
Pembelajaran yang dilakukan di dalam Istana, kurikulum pelajaran hampir mirip dengan Maktab namun disini ditambahkan dengan ilmu-ilmu sosial dan budaya. Seni pidato, etika formal, sejarah dan tradisi itu juga diajarkan.
d) Sekolah Masjid
Para khalifah melihat pentingnya masjid bukan hanya untuk sholat tetapi juga bisa menjadi pusat pengajaran bagi generasi penerus bangsa. Di Baghdad pada abad ke-10 M terdapat 3.000 masjid.
e) Sekolah Toko Buku
Sekolah ini dikenal dengan Suq al-Warraqin ( Pasar Para Penjual Buku ). Para penjual buku juga memiliki kewajiban untuk berbagi ilmunya dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Sekolah toko buku ini sekarang kerap di kenal dengan nama perpustakaan.
f) Sanggar Sastra (Literary salon)
Sanggar Sastra merupakan tmpat dimana seseorang tertentu bertukar pikiran dan setiap orang yag berada disitu diwajibkan menggunakan busana tertentu dan mengikuti aturan ketat diruangan itu.
g) Madrasah
Madrasah merupakan tempat dimana untuk memberikan pelajaran. Madrasah menwarkan pelajaran tingkat tinggi, seperti= hukum, Al Quran, Hadist, Kedokteran, Matematika, Astronomi, Fisika, Filsafat, Sastra, dan Sejarah.
h) Universitas
Pusat dari kejayaan pada zaman klasik islam ini ditandai adanya universitas yang merupakan pusat sebuah penelitian. Universitas adalah tempat belajar untuk tingkatan yang paling tinggi oleh karena itu pelajar kerap disebut mahasiswa.
II. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI DUNIA ISLAM
1) Lahirnya Ilmu Pengetahuan Di Dalam Islam
Perhatian para umat islam lebih tertuju pada ilmu agama di masa itu, karena agama baru dengan penganut yang baru sehingga dapat dimaklumi. Untuk mencari kebenaran tentang ilmu para umat islam memperolehnya dari Al Quran dan Hadist. Jika ada masalah yang tak cukup di selsaikan dengan Al Quran dan Hadist maka biasanya di lakukan dengan Itjihad dengan mengacu pada teks Al Quran. Melalui ijtihad tersebut ilmu dapat berkembang. Olehkarena itu tumbuhlah ilmu keislaman seperti = Ulum Al-Quran, Ulum Hadist, Ilmu Tauhid dan Ilmu fiqih. Tidak hanya perkembangan ilmu agama saja namun juga ilmu ilmu yang bersifat empiris, seperti = fisika, kimia dan astronomi.
2) Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
Maksud dari klasifikasi ilmu pengetahuan yaitu sebagai progres atau perkembangan suatu ilmu dari ilmu yang bersifat umum kemudian di pecah ke dalam sesuatu ilmu yang bersifat spesifik atau menjuru. Contohnya ilmu Al Quran yang telah di spesifikasikan menjadi ilmu qiraat, tafsir, hadist dan muthsalatnya, ushuludin dan kalam, ushul fiqih, sejarah, bahasa arab dan sastra.
3) Tradisi Bayani, Burhani dan Irfani
Menurut Al-Jabiri dalam Bunyah al-aql arabi memetakan struktur pemikiran arab di bagi kedalam tiga sistem pengetahuan, yaitu=
a. Bayani (bercorak retoris)
Sistem pengetahuan ini selalu berpijak pada teks keagamaan dari generasi ke generasi berikutnya. Contohnya = ilmu fiqih, ilmu kalam, nahwu, dan sastra arab.
b. Irfani (bercorak gnosis)
Kriteria nalar irfani ini menggunakan penyigkapan dalam metodologinya. Contohnya yaitu = ilmu tasawuf, pemikiran syi’ah, tafsir batini, peramalan dan sihir.
c. Burhani (bercorak demostratif)
Dalam sistem ini lebih mengutamakan penalaran dalam metodologinya. Contohnya, yaitu = ilmu logika, filsafat, matematika dan ilmu kelaman.
Al-jabiri menganggap bahwa yangmerupakan ilmu klasik adalah model bayani sementara model yang lainya sudah terkontaminasi dari pengaruh luar.
4) Metode Memperoleh Ilmu
Metode yang dilakukan dalam tradisi islam untuk memperoleh ilmu yaitu dengan hafalan atau tulisan, terutama Al Quran dan Hadist. Dengan menghafal kita akan selalu teringat apa yang ada di pikiran kita selamakita istiqomah dalam hafalan. Meski sampai tua semua akan terekam dalam memori otak dan tak mudah lupa. Sedangkan dengan tulisan kita dapat mengingat bila suatu saat kita lupa, cukup dengan membuka ulang lembaran lembaran yang penuh tulisan.
5) Isnad dan Metode Transmisi Keilmuan Islam
Dalam hal ini isnad (pencatatan rentetan perawi) mencerminkan bahwa buku mewakili tradisi lisan yang terus berlanjut dan tak putus. Semua itu berpusat dari kenyataan bahwa kesastraan muncul dari apa yang di ucap oleh Nabi. Apa yang dikatakanya merupakan bukti empiris yang terus terjaga hingga saat ini. Tradisi isnad berkembang dalam tiga bidang, yaitu =
• Dalam bidang ilmu hadist
• Dalam transmisi kitab atau buu
• Dalam doa atau tarekat
6) Pengutipan dalam Etika Keilmuan Islam
Banyak ditemukan di naskah- naskah lama berbeda dengan zaman modern ini pengutipan sumber-sumber rujukannya. Di zaman sekarang ini, digunakan untuk menilai masalah pengutipan dalam merujuk sehingga tidak sedikit yang menganggap naskah lama adalah merupakan kebanyakan penjiplakan. Namun semua itu tidak benar, dengan mengutip sebenernya juga meningkatkan prestise karya seni.
III. METODE DAN SUMBER
Pada abad ke-3 H Ibnu Jarir Ath Tharibi tokoh sejarah dengan metode riwayat. Beliau menekan metode ahli hadist dan menolak logika, analogi dan deduksi. Menurutnya sejarah adalah pengecekan riwayat, penelitian teks-teks, dan pengkajian terhadap sanad.
Tokoh lain yaitu Al-Mas’udi, sebagai pengubah metode historis dari sekedar bentuk deskripsi historis-politis yang terbatas pada apa yang ada dalam sanad-sanad menjadi sejarah kebudayaan masyarakat.
Namun pada abad 9 M sedikit demi sedikit hari berganti hari metode ilmu hadist ini berkurang, itu yang terjadi pada metode ilmu sejarah. Sementara pada ilmu tafsir perubahan metode terjadi pada abad ke 11 M dengan munculnya metode tafsir bir-ra yi atau tafsir bil-ma’qul.
Sumber: Buku Metodologi Study Islam ( Dr. Ismail Yahya, MA)



Komentar
Posting Komentar