Ngatur jiwa di nurudh dholam iv
NAMA = FAIZAL HAMDAN MAHERI
KELAS = PERBANKAN SYARIAH 2 D
NIM = 175231156
NGATUR JIWA DI NURUDH DHOLAM 1V
Saat ini banyak mahasiswa Iain Surakarta tepatnya jurusan Perbankan Syariah semester dua Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang resah dan gelisah berebut mencari pondok pesantren untuk tempat menginap. Hal ini disebabkan karena mata kuliah Metodologi Study Islam yang memberikan tugas untuk meneliti kehidupan di pondok pesantren. Di kelas kami, yaitu kelas Perbankan Syariah 2 D mendapatkan undian tempat di daerah Klaten dan Wonogiri. Pastinya setiap kelas mendapatkan pilihan tempat yang berbeda-beda. Ditambah lagi setiap kelompoknya tidak boleh menepati satu pondok yang sama.
Sebenarnya dua minggu sebelumnya kami sudah mencari pondok pesantren untuk tempat penelitian. Pondok yang kami datangi adalah pondok pesantren al Muttaqien pancasila sakti yang beralamat di daerah Sumberejo wangi kecamatan Karanmganom Kabupaten Klaten, dan pondok pesantren al Munawwir ndlajo yang beralamat di daerah kadilajo kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Dari kedua pondok pesantren itu kami dipersilahkan melakukan penelitian dan diberikan izin oleh pengasuh pondok tersebut. Namun kedua pondok pesantren itu nyaris tidak ada yang kami tempati satupun. Alasan yang pertama untuk masalah jarak yaitu pondok munawwir ndlajo terlalu jauh dan yang kedua pondok Al Mutaqien sudah di tempati kelompok lain. Padahal kelompok kami sudah memboking terlebih dahulu namun tiba-tiba direbut oleh kelompok lain.
Alhamdulilah di balik ini semua ternyata ada berkahnya, meski banyak lika-liku untuk mencapai keberkahan itu. Setelah tahu pondok al mutaqien sudah ditempati kelompok lain, kami menuju pondok ibnu abbas yang dekat dengan pondok Al Mutaqien. Namun pondok pesantren Ibnu Abbas ada kendala pada perizinan yang membutuhkan waktu dua hari untuk perundingan pengurus pondok pesantren. Dan akhirnya kami menemukan pondok pesantren di dusun Ngaran, desa Mlese, Kecamatan Ceper, kabupaten Klaten yang bernama pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV.
Kedatangan kami di pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam di sambut dengan baik, dan juga di jamu teh manis oleh Bapak Kyai Badarudin selaku pengasuh pondok pesantren. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan menyerahkan surat tugas akhirnya kami di perbolehkan untuk menginap di pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam selama satu kali dua puluh empat jam. Kami diberikan tempat untuk istirahat di sebuah aula pondok yang lumayan luas dan cukup untuk menampung kelompok kami. Kesempatan emas ini tidak akan kami sia-siakan untuk menggali informasi tentang kehidupan di pondok pesantren.
Pondok Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV Klaten memiliki visi Alim, Shaleh dan Kafi. Alim, berarti mampu membaca dan memahami Al Quran dan kitab-kitab salaf. Shaleh, berarti bisa menempatkan antara Hak dan kewajiban serta bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan Kafi berarti santri yang pintar, profesional dan mandiri. Dari visi tersebut pengasuh pondok berusaha mencetak santrinya mencapai visi tersebut.
Menurut pengasuh pondok, Pesantren Nurudh dholam memiliki beberapa cabang yaitu pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam Bangil, pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam II di Bangle Gunung Gangsir Beji Pasuruan Jawa Timur, Pondok pesantren salafiyah Nurudh dholam III di Oro-oro Jipang Ngoro Mojokerto Jawa Timur dan yang terakhir Pondok Pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV di Klaten.
Pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV memiliki 24 orang santri, yang terdiri dari 21 santri putri dan 3 santri putra. Lalu juga ada santri TPQ sebanyak 53 anak dan juga pengajian untuk santri S3 ( Santri Sampun Sepuh) .
Seusai sholat ashar di mushola pondok kegiatan rutinya adalah pengajian TPQ anak- anak di komplek pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholim. Kami mengamati kegiatan pengajian TPQ itu secara seksama. metode yang dilakukan yaitu dengan setoran atau setip anak membaca AlQuran satu persatu di depan Ustadzah. Pembacaan Al Quran dilakukan secara bergantian kepada tiga Ustadzah.
Setelah pengajian selesai para santri bersiap-siap untuk persiapan sholat Maghrib. Sholat Maghrib dilakukan di Mushola yang diimami oleh pengasuh pondok pesantren. Setalah selesai sholat acara selanjutnya yaitu pengajian kitab jallalin yang dilakukan oleh bapak-bapak atau yang sering di kenal dengan sebutan santri sampun sepuh. Selain di mushola, di aula juga dipakai untuk mengaji kitab jallalin oleh santri yang menetap. Metode yang di gunakan dalam pengjaran yaitu dengan mengaji bandungan atau sorogan. Metode bandungan yaitu metode yang dilakuan dengan guru/ kyai membacakan kitab tersebut sesuai dengan artinya kemudian santri menyimak dan menulis artinya secara seksama.
Setelah acara selesai kami ingin pergi makan namun sandal saya hilang. Mungkin itu karena dighozob oleh anak pondok. Ghosob merupakan perbuatan mengambil manfaat barang tanpa izin atau pengetahuan pemilik. Perilaku ghosob ini sudah biasa bagi santri karena santri yang berada di dalam pondok pesantren selalu menganggap bahwa setiap barang apapun itu adalah milik bersama. Jadi seakan-akan semua barang yang ada adalah milik sendiri dan bisa digunakan bersama-sama secara bergantian. Bagi saya perbuatan seperti itu sudah saya anggap biasa karena saya sudah tinggal di pondok pesantren meski baru pernah merasakan nikmatnya kehidupan di pondok.
Kami tak memikirkan sandal yang hilang, kemudian kami menuju ke sebuah tempat dimana satu pondok makan secara bersama-sama. Kami makan dengan menggunakan nampan, dalam satu nampan kita makan berlima orang. Beginilah nikmatnya hidup di pondok yang dapat merasakan indahnya sebuah kebersamaan. Meski makanan yang dimakan tidak terlalu enak dan berlauk sederhana tapi semua itu akan terasa nikmat saat bersama. Tidak ada gengsi dan semua menganggap bersaudara, tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
Setelah makan bersama usai, kegiatan selanjutnya adalah sholat isya berjamaah di Mushola. Kami satu pondok berbondong menuju mushola, mengambil air wudhlu dan lekas melaksanakan sholat. Setelah sholat selesai kegiatan selanjutnya yaitu mengaji imriti yang dibagi perkelas-kelas. Untuk usia dewasa atau kuliah langsung diajar oleh pak Kiai sedangkan yang masih MI/ MTS diajar oleh Ustadzah. Untuk yang diajar oleh Pak Kiai kegiatan dilakukan di rumah Pak Kiai atau sering disebut “ndalem”. Sedangkan untuk MI berada di mushola sedangkan MTS berada di aula.
Kegiatan selesai pada pukul 21.00 WIB, semua santri kembali ke kamarnya masing-masing. Kami pun menuju ke aula untuk istrahat. Sebelum tidur kami mengumpulkan hasil observasi yang didapatkan di hari pertama. selain itu kami juga mempersiapkan untuk esok hari. Setelah semua siap kami pun lekas tidur agar besok bisa bangun sebelum subuh.
Mendengar suara merdu adzan salah satu santri membuat kami terbangun. kami bergegas menuju mushola untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Usai sholat subuh pengajian pun dimulai kembali. Pengajian selanjutnya yaitu kitab kuning jallalin dengan belajar menulis serta memaknai pegon.
Pada pukul 8.00 WIB para santri mengaji setoran hafalan Quran satu per satu ke Pak Kiai. Selain itu juga belajar menulis Arab dan belajar menulis Pegon. Kebanyakan santri yang mondok disini tidak bersekolah karena memfokuskan untuk mempelaari ilmu agama di pondok. Selain itu juga agar memperdalam nilai hafaln. Selanjutnya di mulai kembali dari jam 11.00 WIB sampai masuk waktu Dhuhur.
Selain hari biasa yaitu hari selasa dan jumat malam kegiatan mengaji di ganti dengan albarjanji , khitobah, maljum manaqin dan hadroh. Kegiatan ini dilakukan agar santri tidak merasa bosan dan ini adalah kebiasaan islam terutama NU. Kegiatan dilakukan agar para santri tetap melestarian kebiasaan itu.
Peraturan di dalam pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV ini juga terbilang ketat. Pengurus menetapkan peraturan yang keras agar para santri dapat disiplin dan terdidilk dengan baik. Salah satunya yaitu jika ketahuan membawa barang elekronik maka biasanya di hancurkan langsung di depan mata. Selain membawa barang elektronik yaitu santri dilarang keluar pondok tanpa seizin dari Bapak Kiai.
Demikian kegiatan yang berada dalam pondok pesantren salafiyah Nurudh dholam yang dapat saya teliti dan kaji baik kegiatan yang dilakukan maupun kehidupan yang ada di dalamnya. Kami minta maaf bila yang saya kaji kurang lengkap, mungkin suatu saat kami dapat membuat agar lebih baik lagi. Seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak” ibaratnya karya atau seuatu itu tidak mungkin sempurna. Di balik kesempurnaan pasti memiliki sisi kekurangan. Jadi jangan pernah puas akan sesuatu, dan jangan perna meneyombongkan diri. Tetap perbaiki dan perbaiki agar bisa lebih baik lagi. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan sebaik baik ciptaan adalah ciptaan Allah SWT.
Kesimpulanya adalah setelah saya melakukakan kegiatan live in di pondok pesantren karena tugas Metodology Study Islam hal yang dapat dipetik dan dipelajari adalah mencari ilmu itu tidak kenal waktu, siang malam tetap dijalani. Meski kadang kita merasa bosan dan lelah tapi tetaplah bersabar dan ikhlas karena kita sedang berproses. Tunggu lah nanti dan kita pasti akan memetik hasil dari apa yang kita tanam saat ini.
Kebersamaan akan membawa dalam kedamaaian dan kebahagiaan. Tanpa kita harus membeda- bedakan antara yang satu dengan yang lainya. Kerukunan dan kedisiplinan harus selalu terjaga antar satu sama lain.
Meski sebelumnya saya sudah pernah mondok dan sudah terbiasa merasakan pedihnya di ghosob namun disini bisa menjadi pengalaman baru saat baru pertama kali datang dan sandal pun angsung lenyap menghiang. Namun dengan kejadian seperti itu saya diajarkan agar bisa ikhlas dengan semua cobaan yang dihadapi. Pesan untuk santri seluruh indonesia saja yaitu agar menghindari sikap ghosob karena merugikan pemiliknya. Setidaknya sebelum meminjam sesuatu langkah baiknya bilang kepada pemiliknya agar sang pemilik tidak mencari dan berdikiran negatif.
KELAS = PERBANKAN SYARIAH 2 D
NIM = 175231156
NGATUR JIWA DI NURUDH DHOLAM 1V
Saat ini banyak mahasiswa Iain Surakarta tepatnya jurusan Perbankan Syariah semester dua Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang resah dan gelisah berebut mencari pondok pesantren untuk tempat menginap. Hal ini disebabkan karena mata kuliah Metodologi Study Islam yang memberikan tugas untuk meneliti kehidupan di pondok pesantren. Di kelas kami, yaitu kelas Perbankan Syariah 2 D mendapatkan undian tempat di daerah Klaten dan Wonogiri. Pastinya setiap kelas mendapatkan pilihan tempat yang berbeda-beda. Ditambah lagi setiap kelompoknya tidak boleh menepati satu pondok yang sama.
Sebenarnya dua minggu sebelumnya kami sudah mencari pondok pesantren untuk tempat penelitian. Pondok yang kami datangi adalah pondok pesantren al Muttaqien pancasila sakti yang beralamat di daerah Sumberejo wangi kecamatan Karanmganom Kabupaten Klaten, dan pondok pesantren al Munawwir ndlajo yang beralamat di daerah kadilajo kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Dari kedua pondok pesantren itu kami dipersilahkan melakukan penelitian dan diberikan izin oleh pengasuh pondok tersebut. Namun kedua pondok pesantren itu nyaris tidak ada yang kami tempati satupun. Alasan yang pertama untuk masalah jarak yaitu pondok munawwir ndlajo terlalu jauh dan yang kedua pondok Al Mutaqien sudah di tempati kelompok lain. Padahal kelompok kami sudah memboking terlebih dahulu namun tiba-tiba direbut oleh kelompok lain.
Alhamdulilah di balik ini semua ternyata ada berkahnya, meski banyak lika-liku untuk mencapai keberkahan itu. Setelah tahu pondok al mutaqien sudah ditempati kelompok lain, kami menuju pondok ibnu abbas yang dekat dengan pondok Al Mutaqien. Namun pondok pesantren Ibnu Abbas ada kendala pada perizinan yang membutuhkan waktu dua hari untuk perundingan pengurus pondok pesantren. Dan akhirnya kami menemukan pondok pesantren di dusun Ngaran, desa Mlese, Kecamatan Ceper, kabupaten Klaten yang bernama pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV.
Kedatangan kami di pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam di sambut dengan baik, dan juga di jamu teh manis oleh Bapak Kyai Badarudin selaku pengasuh pondok pesantren. Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan menyerahkan surat tugas akhirnya kami di perbolehkan untuk menginap di pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam selama satu kali dua puluh empat jam. Kami diberikan tempat untuk istirahat di sebuah aula pondok yang lumayan luas dan cukup untuk menampung kelompok kami. Kesempatan emas ini tidak akan kami sia-siakan untuk menggali informasi tentang kehidupan di pondok pesantren.
Pondok Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV Klaten memiliki visi Alim, Shaleh dan Kafi. Alim, berarti mampu membaca dan memahami Al Quran dan kitab-kitab salaf. Shaleh, berarti bisa menempatkan antara Hak dan kewajiban serta bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan Kafi berarti santri yang pintar, profesional dan mandiri. Dari visi tersebut pengasuh pondok berusaha mencetak santrinya mencapai visi tersebut.
Menurut pengasuh pondok, Pesantren Nurudh dholam memiliki beberapa cabang yaitu pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam Bangil, pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam II di Bangle Gunung Gangsir Beji Pasuruan Jawa Timur, Pondok pesantren salafiyah Nurudh dholam III di Oro-oro Jipang Ngoro Mojokerto Jawa Timur dan yang terakhir Pondok Pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV di Klaten.
Pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV memiliki 24 orang santri, yang terdiri dari 21 santri putri dan 3 santri putra. Lalu juga ada santri TPQ sebanyak 53 anak dan juga pengajian untuk santri S3 ( Santri Sampun Sepuh) .
Seusai sholat ashar di mushola pondok kegiatan rutinya adalah pengajian TPQ anak- anak di komplek pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholim. Kami mengamati kegiatan pengajian TPQ itu secara seksama. metode yang dilakukan yaitu dengan setoran atau setip anak membaca AlQuran satu persatu di depan Ustadzah. Pembacaan Al Quran dilakukan secara bergantian kepada tiga Ustadzah.
Setelah pengajian selesai para santri bersiap-siap untuk persiapan sholat Maghrib. Sholat Maghrib dilakukan di Mushola yang diimami oleh pengasuh pondok pesantren. Setalah selesai sholat acara selanjutnya yaitu pengajian kitab jallalin yang dilakukan oleh bapak-bapak atau yang sering di kenal dengan sebutan santri sampun sepuh. Selain di mushola, di aula juga dipakai untuk mengaji kitab jallalin oleh santri yang menetap. Metode yang di gunakan dalam pengjaran yaitu dengan mengaji bandungan atau sorogan. Metode bandungan yaitu metode yang dilakuan dengan guru/ kyai membacakan kitab tersebut sesuai dengan artinya kemudian santri menyimak dan menulis artinya secara seksama.
Setelah acara selesai kami ingin pergi makan namun sandal saya hilang. Mungkin itu karena dighozob oleh anak pondok. Ghosob merupakan perbuatan mengambil manfaat barang tanpa izin atau pengetahuan pemilik. Perilaku ghosob ini sudah biasa bagi santri karena santri yang berada di dalam pondok pesantren selalu menganggap bahwa setiap barang apapun itu adalah milik bersama. Jadi seakan-akan semua barang yang ada adalah milik sendiri dan bisa digunakan bersama-sama secara bergantian. Bagi saya perbuatan seperti itu sudah saya anggap biasa karena saya sudah tinggal di pondok pesantren meski baru pernah merasakan nikmatnya kehidupan di pondok.
Kami tak memikirkan sandal yang hilang, kemudian kami menuju ke sebuah tempat dimana satu pondok makan secara bersama-sama. Kami makan dengan menggunakan nampan, dalam satu nampan kita makan berlima orang. Beginilah nikmatnya hidup di pondok yang dapat merasakan indahnya sebuah kebersamaan. Meski makanan yang dimakan tidak terlalu enak dan berlauk sederhana tapi semua itu akan terasa nikmat saat bersama. Tidak ada gengsi dan semua menganggap bersaudara, tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
Setelah makan bersama usai, kegiatan selanjutnya adalah sholat isya berjamaah di Mushola. Kami satu pondok berbondong menuju mushola, mengambil air wudhlu dan lekas melaksanakan sholat. Setelah sholat selesai kegiatan selanjutnya yaitu mengaji imriti yang dibagi perkelas-kelas. Untuk usia dewasa atau kuliah langsung diajar oleh pak Kiai sedangkan yang masih MI/ MTS diajar oleh Ustadzah. Untuk yang diajar oleh Pak Kiai kegiatan dilakukan di rumah Pak Kiai atau sering disebut “ndalem”. Sedangkan untuk MI berada di mushola sedangkan MTS berada di aula.
Kegiatan selesai pada pukul 21.00 WIB, semua santri kembali ke kamarnya masing-masing. Kami pun menuju ke aula untuk istrahat. Sebelum tidur kami mengumpulkan hasil observasi yang didapatkan di hari pertama. selain itu kami juga mempersiapkan untuk esok hari. Setelah semua siap kami pun lekas tidur agar besok bisa bangun sebelum subuh.
Mendengar suara merdu adzan salah satu santri membuat kami terbangun. kami bergegas menuju mushola untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Usai sholat subuh pengajian pun dimulai kembali. Pengajian selanjutnya yaitu kitab kuning jallalin dengan belajar menulis serta memaknai pegon.
Pada pukul 8.00 WIB para santri mengaji setoran hafalan Quran satu per satu ke Pak Kiai. Selain itu juga belajar menulis Arab dan belajar menulis Pegon. Kebanyakan santri yang mondok disini tidak bersekolah karena memfokuskan untuk mempelaari ilmu agama di pondok. Selain itu juga agar memperdalam nilai hafaln. Selanjutnya di mulai kembali dari jam 11.00 WIB sampai masuk waktu Dhuhur.
Selain hari biasa yaitu hari selasa dan jumat malam kegiatan mengaji di ganti dengan albarjanji , khitobah, maljum manaqin dan hadroh. Kegiatan ini dilakukan agar santri tidak merasa bosan dan ini adalah kebiasaan islam terutama NU. Kegiatan dilakukan agar para santri tetap melestarian kebiasaan itu.
Peraturan di dalam pondok pesantren salafiyah Nurudh Dholam IV ini juga terbilang ketat. Pengurus menetapkan peraturan yang keras agar para santri dapat disiplin dan terdidilk dengan baik. Salah satunya yaitu jika ketahuan membawa barang elekronik maka biasanya di hancurkan langsung di depan mata. Selain membawa barang elektronik yaitu santri dilarang keluar pondok tanpa seizin dari Bapak Kiai.
Demikian kegiatan yang berada dalam pondok pesantren salafiyah Nurudh dholam yang dapat saya teliti dan kaji baik kegiatan yang dilakukan maupun kehidupan yang ada di dalamnya. Kami minta maaf bila yang saya kaji kurang lengkap, mungkin suatu saat kami dapat membuat agar lebih baik lagi. Seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak” ibaratnya karya atau seuatu itu tidak mungkin sempurna. Di balik kesempurnaan pasti memiliki sisi kekurangan. Jadi jangan pernah puas akan sesuatu, dan jangan perna meneyombongkan diri. Tetap perbaiki dan perbaiki agar bisa lebih baik lagi. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan sebaik baik ciptaan adalah ciptaan Allah SWT.
Kesimpulanya adalah setelah saya melakukakan kegiatan live in di pondok pesantren karena tugas Metodology Study Islam hal yang dapat dipetik dan dipelajari adalah mencari ilmu itu tidak kenal waktu, siang malam tetap dijalani. Meski kadang kita merasa bosan dan lelah tapi tetaplah bersabar dan ikhlas karena kita sedang berproses. Tunggu lah nanti dan kita pasti akan memetik hasil dari apa yang kita tanam saat ini.
Kebersamaan akan membawa dalam kedamaaian dan kebahagiaan. Tanpa kita harus membeda- bedakan antara yang satu dengan yang lainya. Kerukunan dan kedisiplinan harus selalu terjaga antar satu sama lain.
Meski sebelumnya saya sudah pernah mondok dan sudah terbiasa merasakan pedihnya di ghosob namun disini bisa menjadi pengalaman baru saat baru pertama kali datang dan sandal pun angsung lenyap menghiang. Namun dengan kejadian seperti itu saya diajarkan agar bisa ikhlas dengan semua cobaan yang dihadapi. Pesan untuk santri seluruh indonesia saja yaitu agar menghindari sikap ghosob karena merugikan pemiliknya. Setidaknya sebelum meminjam sesuatu langkah baiknya bilang kepada pemiliknya agar sang pemilik tidak mencari dan berdikiran negatif.


Komentar
Posting Komentar