Mengkaji kitab Ta'lim Muta'allim

NAMA = FAIZAL HAMDAN MAHERI
NIM = 175231156
KELAS = PERBANKAN SYARIAH 1 D

Mengkaji kitab “TA’LIMUL MUTA’ALLIM” tentang bab pasal Tawakkal





Dalam kitab Ta’limul Muta’allim penulis menjelaskan bahwa buku ini dibuat agar pembaca memiliki akhlaq yang baik dalam menjalani kehidupan. Diharapkan kitab ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat diterapkan oleh setiap orang serta memberi sumbangan positif kepada segenap pembaca, dan menambah kebendaharaan ilmu bagi kaum pelajar, santri ataupun mahasiswa.
Ini merupakan suatu hal yang wajar apabila dari berbagai kalangan manusia banyak yang berminat untuk mempelajari kitab “TA’LIMUL MUTA’ALLIM”. Bukan karena dari keistimewaan seorang pengarangnya, namun kitab tersebut dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk bekal mencari ilmu.
Sejalan dengan segala kemampuan yang dimiliki, penulis berusaha sebaik mungkin agar tulisanya dapat dipahami oleh pembaca dengan membuat ukuran font yang lumayan besar dan terdapat harakat di dalamnya. Namun meski demikian, penulis sadar bahwa sebuah karya manusia takan pernah bisa melampaui ciptaan Allah SWT. Setiap sesuatu pasti memiliki kekurangan di dalamnya, seperti pepatah tidak ada gading yang tak retak. Dapat diketahui bahwa segala sesuatu tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Dalam hal ini kemudian penulis sangat membutuhkan sebuah saran dan kritikan yang membangun untuk penyempurnaanya suatu karya.
  Pada cover kitab ini bertuliskan “TA’LIMUL MUTA’ALLIM” dengan huruf hijaiyah yang berkaligrafi, selain itu ada gambar masjid di bawah tulisan. Warna covernya yaitu hijau muda dengan kertas yang berbahan tipis. Di bagian cover  belakang terdapat kumpulan berbagai gambar cover kitab-kitab yang lainya. Dengan ukuran pajang 20,5 cm dan lebar buku 14,5 cm. Kertas isinya berwarna kuning dengan ukuran font yang lumayan besar sehingga mudah dalam membacanya. Ditambah lagi dengan adanya harakat di setiap tulisan hijaiyahnya. Kitab ini disusun dari beberapa bab yang terdiri dari 72 halaman. Ada daftar isi di dalamnya. Diterbitkan oleh Al Miftah di Surabaya pada tahun 2012. Kitab ini ditulis oleh Imam Burhanudin Islam Azzarnuji.






Di dalam kitab ini terdiri dari 12 bab, namun saya memilih untuk mengkaji bab tentang pasal tawakal. Di dalam bab ini berisi seorang santri harus bertawakal dalam menuntut ilmu, tidak perlu memusingkan rezeki atau menyibukan hatinya. Abu Hanifah Rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Al Hasan Azzabidi sahabat Rasullulah saw : “Barangsiapa yang menuntut ilmu agama, maka Allah akan mencukupkannya dan memberi rezki dari tempat yang tak disangka-sangka.”
Karena orang yang hanya memikirkan urusan harta di dunia, kebanyakan jarang memikirkan urusan akhlaq dan tingkah laku yang baik antar sesamanya. Sikap angkuh, pamer, dan serakah kerap menjadi penyakit hati bagi setiap manusia. Hal tersebut muncul karena di dalam otaknya hanya tertanam keinginan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Hakikatnya manusia memang tidak pernah bisa merasa cukup, namun manusia yang bijak adalah manusia yang dapat mensyukuri berapapun yang ia dapatkan.
Dikatakan :
دَعِ الْمَكَا رِ مَ لَا تَرْحَلْ لُبِغْيَتِهَا
  وَاقْعُدف فَاِ نَكَ انت الطاعم الكا سى
Artinya : “Tinggalkanlah keluhuran janganlah kau mencarinya. Duduklah saja, karena engkau hanya bisa makan dan berpakaian.”
Hendaklah sebagai manusia menyibukan diri dengan hal-hal yang positif agar tidak dipermainkan oleh hawa nafsu, karena dengan tidak pernah melakukan kebaikan seseorang akan senantisa memenuhi hawa nafsu yang dimilikinya. Sebagai orang yang berakal tidak akan memusingkan urusan duniawi yang disebabkan oleh kesedihan dan kegalauan karena merasa tidak dapat bermanfaat bagi orang lain dan tidak dapat menyelesaikan masalah sehingga merusak hati, namun orang yang berakal justru memikirkan jika hati rusak maka justru itu dapat menjadi penghalang untuk  berbuat kebaikan.
Sebaiknya manusia lebih memikirkan tentang akhirat karena itu sangat bermanfaat. Sebagai seorang santri diharapkan lebih menjauhi urusan materi duniawi oleh karena itu para santri kebanyakan merantau untuk merasakan susahnya mencari ilmu. Ujian dan rintangan yang datang merupakan cobaan yang perlu banyak bersabar. Karena barang siapa yang bertahan dalam kepayahan dan berusaha lebih baik, maka ia akan merasakan nikmat yang lebih dari segala kenikmatan di duniawi. Ilmu merupakan perkara yang sangat besar melebihi berjihad menurut sebagian ulama.
Kita sebaiknya menyibukan diri dengan ilmu terutama yaitu ilmu fiqih. Seperti para ahli fiqih yang selalu menyibukan dirinya dengan ilmu fiqih di setiap waktunya, karena dengan itu mereka akan merasakan kenikmatan yang tiada duanya.

Kitab Ta’lim Muta’alim ini dikarang oleh Imam Burhanudin Islam Azzarnuji. Namun yang dikenal luas hanya az-Zarnuji ini disebabkan karena pada kitab Ta’lim al-Muta’allim sendiri hanya ditulis demikian dan juga pada kitab Syarah Ta’lim al-Muta’allim yang dikarang oleh Syeikh Ibrahim bin Ismail tidak menyebutkan sama sekali nama lengkap dari az-Zarnuji. Tetapi ada pula yang menyebutkannya bahwa nama lengkap az-Zarnuji adalah Nu’man bin Ibrahim ibn Khalil az-Zarnuji Taj ad-Din sebagaimana yang ditulis oleh al-Zarkeli dalam kitabnya al-A’lam (Tokoh-tokoh).
Sedangkan Djudi dalam tesisnya “Konsep Belajar Menurut Az-Zarnuji; Kajian Psikologi-Etik KItab Ta’lim Al-Muta’allim”, menerangkan bahwa terdapat beberapa perbedaan para penulis atau peneliti dalam penyebutan nama lengkap az-Zarnuji yang antara lain menyebutkan az-Zarnuji adalah Burhanul Islam az-Zarnuji dan ada juga yang menyebutkannya Burhanuddin al-Islam az-Zarnuji. Adapun penulis pada hal ini menggunakan yang pertama yaitu Syekh Burhanuddin az-Zarnuji sebagaimana yang telah ditulis oleh Hasan Langgulung.
Mengenai sejarah kehidupan Burhanuddin az-Zarnuji sampai saat ini pula masih belum ada peneliti yang menerangkan kapan Burhanuddin az-Zarnuji dilahirkan. Adapun tentang kewafatannya Burhanuddin az-Zarnuji wafat pada tahun 591 H/1195 M. Sedangkan mengenai asal Burhanddin az-Zarnuji Mochtar Affandi dalam tesisnya ”The Method of Muslim Learning as Illustrated in Al Zarnuji’s Ta’lim al Muta’allim (1990)” mengatakan bahwa asal dari Burhanuddin az-Zarnuji dilihat dari nisbah namanya az-Zarnuji, berarti az-Zarnuji berasal dari wilayah Zarandj yang merupakan sebuah kota di Sidjistan pada abad pertengahan yang sekarang dikenal dengan Afganistan.
Pendapat tentang tempat asal az-Zarnuji dari Afganistan karena tidak ada referensi yang menyatakan bahwa az-Zarnuji berasal dari bangsa Arab. Walaupun apabila dilihat dari karyanya kitab Ta’lim al-Muta’allim menggunakan bahasa Arab hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa az-Zarnuji berasal dari bangsa Arab. Karena banyak sekali para ulama ulama non Arab yang juga menuliskan karya-karyanya dengan menggunakan bahasa Arab, seperti kitab Tafsir Munir yang sering disebut sebagai Tafsir Marah Labid yang menggunakan bahasa Arab merupakan karangan Syekh Muhammad Nawawi yang berasal dari Indonesia.
Afganistan sendiri merupakan salah satu wilayah penyebaran Islam dari Dinasti Ghaznawiyah yang berdiri sejak tahun 350 H. pada zaman bani Ghaznawiyah ini pembangunan dan kemajuan bidang ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sehingga tidak kalah dengan daerah daerah sekitar seperti bukhara. Maka hal tersebut sangat mempengaruhi perkembangan intelektual az-Zarnuji.
Az-Zarnuji sendiri menetap di Khurasan dan Transoxania pada akhir abad ke -12 dan menjadi seorang ahli mazhab Hanafi. Hal ini senada dengan pendapat Djudi bahwa Burhanuddin az-Zarnuji adalah seorang pengikut mazhab Hanafi. Adapun mazhab Hanafi tersebut banyak dianut oleh orang orang Turki dan keturunannya, seperti Turkistan, Pakistan, dan Afganistan. Ciri utama mazhab ini adalah mengandalkan ro’yi (fikir) dan analogi (secara kias). Oleh sebab itu dimungkinkan Az-Zarnuji sebagai orang yang banyak mengandalkan akal di sampaing Al-qur’an dan Al-hadits dalam memaparkan argumentasinya. Maka dari itu para peneliti mengkatagorikan bahwa az-Zarnuji sebagai seorang filosof.
Mengenai riwayat pendidikan az-Zarnuji memulai menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand yang saat itu menjadi kota pusat kegiatan keilmuan. Karena pada saat itu masjid-masjid di kota tersebut dijadikan sebagai lembaga-lembaga pendidikan. Salah satu dari lembaga-lembaga pendidikan tersebut di asuh oleh Burhanuddin al-Marginani seorang ahli mazhaf Hanafi yang telah mengarang kitab al-Hidayah Fi Furu’ al-Fiqh yang kemudian dikenal sebagai guru utama az-Zarnuji.
Selain itu guru-guru az-Zarnuji yang terkenal adalah Nizamuddin bin Burhanuddin Al-Marginani yang merupakan anak dari Burhanuddin Al-Marginani, Syamsuddin Abdul Wadji Muhammad bin Muhammad bin Abdussatar al-Amidi.
Selain itu masih banyak ulama-ulama yang menjadi guru az-Zarnuji sebagaimana yang dapat kita lihat dari pendapat-pendapat mereka diangkat di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Adapun beberapa guru-guru az-Zarnuji adalah sebagai berikut:
1. Ali bin Abi Bakar bin Abdul Jalil al-Farghoni al-Marghirani ar-Rusytani;
2. Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakar, Ahli Fikih, sastra dan syair, wafat tahun 573 H/ 1177 M;
3. Hamad bin Ibrahim; ahli Fikih, sastra dan ilmu kalam, wafat tahun 576 H/ 1180M;
4. Fakhruddin al-Kasyani, wafat 587 H / 1191 M;
5. Fakhruddin al-hasan bin Mansur yang dikenal dengan Qadi Khan, wafat Ramadhan 592 H;
6. Ruknuddin al-Farghani, ahli fiqih, sastra dan syair, wafat tahun 594 H/ 1098 M.
7. al-Imam Sadiduddin Asy-Syirazi.
Melihat dari banyaknya guru-guru az-Zarnuji yang mempunyai keahlian keahlian dibidangnya yang berbeda-beda memungkinkan bahwa az-Zarnuji sendiri tidak hanya ahli dalam bidang pendidikan saja, tetapi juga ahli dalam bidang bidang lain, seperti fikih, sastra, syair dan lain lain.





Komentar

Postingan Populer