RUMAH ALLAH PENYATU UMAT

Nama = Faizal Hamdan M
Kelas = Perbankan Syariah 1D
NIM = 175231156

RUMAH ALLAH PENYATU UMAT

Setelah mendapatkan tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang dibimbing oleh bapak M. Endy Saputro, M.A., dari mulai meriview buku “Sejarah Peradaban Islam Yang Hilang” kemudian meriview film “Muhammad” dan melakukan Public Speaking tentang sejarah Peradaban Islam. Kemudian Kami juga mendapatkan tugas menggali sejarah tentang Masjid, Tokoh agama, Kebudayaan,dan Ritual islam. Dengan melakukan observasi dan wawancara kepada narasumber kami mengumpulkan materi. Pertama kami menulis transkip hasil wawancara yang di ketik menggunakan komputer dan di cetak dalam kertas yang kemudian dikumpulkan. Setelah diperiksa oleh dosen pengampuh kami selanjutnya meriviewnya kembali dan yang terakhir yaitu kita menyusun hasil dari semua kegiatan tersebut.
Pada saat observasi yang saya lakukan adalah datang  ke masjid secara langsung. Selain melihat dengan kedua mata, saya juga mengabadikan dengan cara memfoto untuk bukti secara nyata. Setelah mengamati saya pun menuliskan hasil observasi tersebut dengan cara mendeskripsikan bentuk masjid itu, suasananya, dan apa saja yang ada di dalamnya. Menurut observasi saya di dalamnya terdapat benda-benda yang umum seperti di masjid-masjid lainya. Terdapat pula Al Quran, mukenah, sarung dan benda-benda lainya. Tempat itu tampak nyaman dan bersih karena tidak terlihat satupun kotoran ataupun debu. Suasana yang hening pun sangat mendukung dalam khusyunya beribadah.
Tepat pada hari sabtu, 28 Oktober 2017 saya menuju ke Masjid Taqwa pukul 15.20 untuk observasi serta melaksanakan sholat Ashar. Saya menemui imam masjid selesai sholat dan menanyakan apakah beliau bisa menjadi narasumber. Akan tetapi beliau tidak bisa menjadi narasumber dan justru beliau menunjukan rumah takmir masjid Taqwa yang tidak jauh dari masjid.
 Imam masjid itu bernama Bapak Kyai Zaenal Abidin, beliau berumur sekitar 60 tahun. Beliau menjadi seorang Imam di Masjid Taqwa belum lama di Masjid Taqwa. Beliau juga tinggal tidak jauh dari masjid Taqwa. Setiap harinya mulai Sholat Subuh, Dhuhur, Asar, Maghrib dan Isya beliau selalu datang ke Masjid Taqwa tepat waktu untuk melakukan sholat jamaah dan menjadi seorang Imam bagi para jamaah sholat masjid Taqwa. Tinggi badanya kira kira sekitar 160 cm dengan rambut dan jenggot yang mulai beruban. Kulitnya sawo matang dan mulai mengkeriput. Meskpun dengan fisik yang renta itu beliau tetap semangat menjalani dan melaksanakan kewajiban sholat lima waktu setiap harinya. Selain itu bacaan surat dalam mengimami sholat berjamaah juga sangat fasih. Perbuatan baik dan tingkah lakunya serta semua pengorbanan yang telah di perbuat harusnya dapat menjadi contoh untuk para pemuda masa kini. Banyak para pemuda masa kini hanya aktif di media sosial saja namun pada kenyataanya kurang bisa menerapkan sosialisasi dengan sesama. Banyak generasi penerus yang sekarang sudah kecanduan handpone sehingga kurang aktifnya dalam berkomunikasi secara langsung. Padahal beliau adalah orang yang murah ilmu, ia sangat suka mengajari orang orang mengaji dan memberikan tausiyahnya. Siapapun yang ingin belajar pasti beliau akan mengajarkan ilmunya tanpa harus pandang bulu ataupun pilih pilih orang. Beliau hanya tinggal bersama istrinya karena anak anaknya sudah memiliki keluarga dan rumah sendiri. Beliau memiliki dua anak, anak yang pertama yaitu bernama Agus yang kini sudah menjalani hidup baru dan sudah membangun rumah sendiri bersama istrinya. Anaknya yang pertama itu sudah bekerja di PT. Sekarang rumahnya berada di Boyolali. Sedangkan anak yang kedua masih berkuliah di Universitas Gadjah Madha semester 7. Anak yang kedua itu sekarang tinggal di pondok pesantren, sehingga jarang pulang kerumah.
Selepas itu saya menuju rumah takmir masjid Taqwa. Tidak mudah untuk mencari rumah takmir Masjid Taqwa, pertama saya di beritahu oleh Bapak Kyai Zaenal Abidin selaku imam masjid. Kemudian saya bertanya kepada pedagang di toko dan akhirnya saya bisa bertemu dengan takmir masjid Taqwa. Rumah Takmir masjid Taqwa memang dekat dengan Masjid Taqwa tetapi sedikit rumit untuk mencarinya karena rumahnya itu masuk ke gang kecil.
Takmir Masjid Taqwa bernama Bapak Badrun Rosyid, beliau selain menjadi takmir masjid yaitu adalah seorang Guru di SMA Negeri 1 Kartasura. Beliau merupakan guru yang mengampuh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Umurnya sekitar 47 tahun yang ditandai dengan beberapa rambut kepalanya yang mulai memutih. Tingginya kira kira 170 cm, sedangkan berat badanya mencapai 60 Kg. Beliau memang memiliki berat badan yang ideal dengan tinggi badanya yang tidak telalu pendek itu. Kulitnya putih, berkumis namun tidak berjenggot. Beliau memiliki dua anak dan satu istri, anak yang pertama yaitu sudah menikah dan membangun rumah sendiri di sebuah desa di kabupaten Klaten. Sedangkan anak yang kedua yaitu masih kuliah di Universitas Negeri Surakarta, mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam dan sekarang semster lima. Istri bapak Badrun Rosyid bernama Siti Supriyanti yang juga berprofesi sebagai guru di sebuah SMP. Setiap harinya bapak Badrun selalu pulang lebih awal daripada istrinya jadi tidak heran dia di rumah sendirian. Oleh karena beliau memiliki banyak waktu luang sehingga saya bisa mewancarai beliau pada saat itu. Saya dipersilahkan duduk dan disungguhi minuman mineral saat mewawancarai beliau. Rumahnya tidak terlalu mewah dan terlihat sederhana serta tidak terlalu besar. Menurut pengakuanya, setelah saya wawancarai beliau merupakan pindahan dari Klaten karena pekerjaanya berada di SMAN 1 Kartasura. Beliau menjadi seorang takmir di Masjid Taqwa ini dipilih oleh warga sekitar dan setiap tiga tahun sekali terjadi pergantian. Periode jabatan menjadi takmir Masjid Taqwa yaitu selama tiga tahun sekali. Sehingga saat saya tanyakan sejarah tentang Masjid Taqwa itu sendiri beliau tidak tahu secara persis. Sedangkan takmir masjid yang pertama kali di masjid Taqwa sudah Wafat. Pada periodenya, beliau telah merenovasi tempat wudlu dan kamar mandi.

Masjid taqwa adalah masjid yang menjadi objek saya untuk sumber wawancara. Masjid Taqwa yang terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Pucangan Rt 03 Rw 01 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo ini merupakan masjid yang dibangun dari tanah wakaf oleh pimpinan cabang Muhammadiyah dan para masyarakat di sekitar masjid. Menurut sejarah yang dikatakan dari mulut ke mulut oleh para sesepuh Masjid Taqwa ini dulunya merupakan sebuah Mushola kecil yang kemudian lama kelamaan berkembang sedikit demi sedikit dan akhirnya berubah menjadi sebuah masjid. Bagian depan, samping dan tempat wudlu merupakan tempat yang telah direnovasi belum lama ini. Perenovasian tampat wudlu merupakan masa periode bapak Badrun selama menjadi takmir masjid. Dana pembangunan dan renovasi tempat wudlu itu menurut pengakuan bapak Badrun didapatkan dari warga sekitar dan donatur dari luar desa. Pak Badrun juga mengajak teman teman guru yang lain yang dianggap mampu untuk membantu menjadi donatur. Sedikit demi sedikit lama lama dana terkumpul banyak. . Karena banyaknya donasi itu mempengaruhi cepatnya pembangunan di masjid Taqwa. Dalam pembangunan ini dilakukan dengan cara gotong royong oleh seluruh warga di sekitar masjid. Dengan gotong royong kita dapat bersama sama merasakan perjuangan untuk mendirikan sebuah masjid. Untuk makananya para warga yang gotong royong di dapat dari masakan setiap rumah secara bergantian setiap harinya. Pembangunan dan renovasi ini berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Dana untuk renovasi tempat wudlu dan kamar mandi itu kira-kira mencapai Rp. 183.000.000,00. Untuk Masjidnya sendiri dana yang dikeluarkan jika di kira kirakan pasti mencapai lebih dari Rp. 183.000.000,00. Pengumpulan dana untuk merenovasi tempat wudlu dan kamar mandi ini tidak lama jika dibandingkan dengan pengumpulan dana untuk merenovasi dan pembangunan masjid itu sendiri. Mungkin yang membuat cepat terkumpulnya dana tersebut karena Pak Badrun mengajak teman teman yang sesama guru untuk ikut membantu mengumpulkan dana.
 Masjid tersebut merupakan masjid Muhammadiyah ditengah tengah masjid masjid beraliran NU. Meski beraliran Muhammadiyah tetapi jamaah di dalamnya beraneka ragam karena tidak membeda bedakan aliran dan saling toleran. Setiap hari sholat lima rakaat jamahnya lumayan banyak. Masjid tersebut terletak disebelah kiri jalan dan  Masjid Taqwa memiliki dua ruangan. Ruang yang pertama yaitu untuk jamaah laki laki dan ruangan kedua untuk jamaah wanita. Bentuk bangunan masjid terlihat sederhana tetapi terasa nyaman,  memanjang dan tidak tingkat.  Di depan masjid juga terdapat teras masjid dan halaman yang lumayan luas oleh karena itu setiap hari jum’at masjid ini dimanfaatkan untuk melaksanakan sholat jumat. Di depan masjid Taqwa terdapat sekolah TK. Setiap harinya dipenuhi oleh anak anak kecil yang bersekolah di TK. Sedangkan jalan tidak berada di depan  masjid melainkan berada di belakang masjid karena Masjid taqwa berada di sebelah timur jalan.
Masjid Taqwa, mendengar namnya saja kita diingatkan agar slalu bertaqwa kepada Allah SWT. Arti Taqwa itu sendiri menurut saya yaitu perbuatan yang dilakukan untuk menjalankan apa yang di perintahkan Allah SWT dan menjauhi apa yang telah dilarang oleh Allah SWT. Sedangkan definisi Masjid adalah suatu tempat yang digunakan oleh orang orang yang beragama islam untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Tidak hanya untuk sholat saja, tetapi masjid juga kerap digunakan untuk ibadah lainya seperti membaca Al Quran, tempat berdakwah, bersodakoh dan ibadah lainya yang diajarkan Islam.
Masjid taqwa ini berwarna hijau dengan perpaduan cat dan kramik pada temboknya. Di ruang pertama atau ruang belakang merupakan ruang ber AC, terdapat dua AC dan tiga kipas angin. Di dalamnya suasananya sangat sejuk dan bersih sehingga mentramkan hati para jamaah dan mengkhusyukan dalam sholat. Masjid ini beralaskan keramik yang dilapisi dengan karpet berwarna hijau. Pada ruangan belakang atau ruangan pertama menggunakan pintu kaca yang membukanya itu dengan cara di geser. Seperti masjid masjid yang lainya, di masjid Taqwa juga terdapat mimbar dan jam digital yang terdapat jadwal sholatnya. Pada ruangan pertama terdapat tiga pintu utama dan ketiga pintu itu merupakan pintu kaca.
Di ruangan kedua atau ruang depan masjid ini memiliki tiga pintu utama namun pintu tersebut tidak berpintu seperti ruang pertama. Di dalam ruangan kedua tersebut terdapat penyekat dari kayu yang biasanya berguna untuk alat pemisah. Seperti ruangan pertama ruangan kedua ini juga beralaskan kramik yang dilapisi oleh karpet namun ruangan ini tidak ber AC dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan ruang pertama. Di ruangan kedua juga terdapat kipas angin dan speaker.
Di bagian depan masjid terdapat teras terbuka yang telah di beri atap, alasnya pun keramik. Namun di bagian ini tidak terdapat tembok melainkan hanya beberapa tiang di setiap sisinya. Uniknya meski bagian teras ini terbuka tetap terdapat kipas angin di sisi kanan dan kiri. Selain kipas angin juga terdapat spekear, penyekat dan papan pengumuman. Di bagian depan teras terdapat halaman yang tidak luas dan biasanya di halaman itu selain untuk memalkirkan kendaraan juga di manfaatkan untuk tempat Sholat Jumat apabila jamaah sholat sangat banyak.
Di masjid Taqwa juga terdapat tempat wudlu beserta kamar mandinya. Tempat wudlu untuk laki-laki dipisahkan dengan tempat wudlu perempuan dan setiap tempat wudlu terdapat dua kamar mandi. Menurut narasumber tempat wudlu di masjid Taqwa ini baru saja di renovasi oleh karena itu masi terlihat baru. Di tempat wudlu itu di bagian tengahnya terdapat tembok penyekat sehingga memiliki empat bagian deret kran air. Air wudlunya pun bersih dan jernih, tidak pernah kehabisan air karena mempunyai penampung air. Di sediakan juga cermin dan sisir yang menempel di tembok luar tempat wudlu.



Kegiatan masjid Taqwa  yaitu melaksanakan sholat berjamaah, dari sholat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan isya yang alhamdulilah jamaahnya lumayan banyak. Dari orang tua, bapak-bapak , ibu-ibu, remaja hingga anak-anak ikut meramaikan masjid setiap harinya. Selain sholat lima waktu, di Masjid Taqwa ini juga ada kegiatan pengajian tafsir Al Quran pada malam rabu dan malam jumat. Namun setelah bulan Ramadhan, pengajian yang dilaksanakan malam jumat belum di mulai kembali dan hanya aktif pada malam rabu saja. Kegiatan itu yaitu dibimbing oleh seorang kyai atau ustad yang berceramah dan membahas tafsiran Quran kepada para jamaah bersama sama. Sebelumnya kegiatan ini dulunya pernah ada kegiatan mengaji membaca Al Quran yang di bimbing oleh Kyai atau Ustad. Namun berhubung para jamaah sudah khatam Al Quran, kemudian kegiatan pun berlanjut untuk belajar Tafsir Al Quran. Kegiatan tafsir Al Quran ini dilaksanakan setelah selesai sholat Isya berjamaah. Biasanya ustad yang membimbing itu adalah di undang dari luar desa.
Namun berbeda dengan malam rabu. Pengajian tafsir Al Quran yang dilaksanakan malam rabu ustad yang membimbing itu tetap, dan tidak berganti ganti, yaitu Kyai Zaenal Abidin. Kyai Zaenal Abidin adalah tokoh yang dianggap paling menguasai di bidang agama di kompleks Masjid Taqwa. Rumahnya pun tidak jauh dari situ. Beliau lah yang setiap menunaikan ibadah sholat lima waktu menjadi seorang imam. Beliau berumur sekitar enam puluh tahun, tetapi semangatnya masih seperti semangatnya para pemuda.
Selain kegiatan tersebut, kegiatan lainya yaitu pada hari minggu pagi. Kegiatan tersebut adalah kegiatan bersih bersih Masjid yang diadakan dan dijadwal secara bergantian setiap minggunya untuk gotong royong membersihkan Masjid. Setiap Minggu pagi warga sudah di bagi yaitu lima orang setiap kebersihan. Pada minggu pertama dan minggu kedua serta minggu selanjutnya setiap orang yang di daftar itu berbeda beda sehingga adil antara warga yang satu dengan yang lainya. Pembagian tugasnya pun sudah ditentukan sendiri sendiri. Ada yang menyapu, membersihkan tempat wudlu , membersihkan kamar mandi, mengelap kaca serta jendela dan mengepel lantai. Namun tugas yang sudah di bagi tersebut setiap minggu berikutnya setiap kelompoknya di rolling pekerjaanya. Sehingga satu orang tidak hanya selalu menyapu setiap bersih bersih. Jadi setiap orang merasakan semua tugas dan tidak monoton pada satu pekerjaan sehingga semua merasakan semua pekerjaan itu.
Selain kegiatan kebersihan Masjid, setiap tanggal empat di setiap bulan ibu-ibu kelompok Aisyah melakukan pengajian di Masjid Taqwa secara rutin. Pengajian itu berupa arisan, hadroh dan tausiyah. Arisan yang dilakukan ibu-ibu ini bertujuan agar para anggota kelompok Aisyah ini selalu berangkat dalam setiap pertemuan. Dengan adanya arisan maka akan timbul rasa tanggung jawab di setiap anggota karena pasti akan menumbuhkan kesadaran bahwa dengan arisan itu diajarkan agar kita rutin hadir dan menyetorkan uang. Kemudian juga pasti setiap anggota akan mengharapkan namanya keluar saat pengocokan dan mendapatkan arisan. Dengan itu akan menumbuhkan semangat dan motivasi para ibu- ibu rutin berangkat setiap pertemuan. Selain arisan ada juga hadroh, meski masjid Taqwa ini di bangun oleh yayasan Muhammadiyah tetapi jammah di dalamnya itu beraneka ragam. Tidak semuanya jamaahnya itu beraliran Muhammadiyah. Memang jika hadroh itu identik dengan Nahdatul Ulama, tetapi tidak ada salahnya para ibu-ibu ini mengadakan kegiatan tersebut di masjid Taqwa. Tujuan diadakan kegiatan tersebut yaitu agar para anggota kompak dengan bersholawat bersama. Selain menumbuhkan kekompakan juga akan mendapatkan pahala dari Allah SWT karena memuji nama-NYA. Kegitan Tausiyah juga dilakukan oleh kelompok Aisyah setiap kali pertemuan untuk mengasah ilmu tentang dunia dan akhirat. Mendalami agama dengan baik dan memiliki dasar yang kuat.
kegiatan malam rabu dan malam jumat itu sudah berlangsung lama, namun karena malam jumat terhenti sehingga dalam minggu ini akan kembali di laksanakan. Kegiatan malam jumat terakhir terlaksana pada saat bulan ramadhan dan setelah idhul fitri kegiatan tersebut tidak berjalan kembali. Sedangkan kegiatan kebersihan masjid berlangsung belum lama yaitu baru baru ini, dan kegiatan ibu ibu pengajian berlangsung sudah lama.
Di masjid Taqwa ini belum ada kegiatan TPQ untuk anak anak dikarenakan anak anak banyak yang belajar TPQ di masjid dekat keratonan. Meski belum ada TPQ untuk anak anak tetapi bapak- bapak kerap membaca Al Quran setelah ba’da Maghrib. Kegiatan TPQ di masjid Taqwa ini yang untuk anak anak kecil hanya berlangsung pada saat bulan Ramadhan saja, untuk hari hari biasa belum ada dan belum terlaksana.
Di depan masjid juga terdapat Taman Kanak Kanak ( TK ) yang setiap harinya banyak anak anak. Disitu juga sudah terdapat kegiatan belajar membaca Al Quran sehingga menjadi salah satu alasan TPQ di Masjid Taqwa belum terlaksana. Selain itu juga belum ada yang menjadi ustadzah atau masih kurangnya pengajar untuk membimbing TPQ.
Idhul Adha setiap tahunya Masjid Taqwa juga para warganya kerap yang berkurban. Biasanya setiap tahunya pasti ada sapi dan beberapa kambing yang dikorbankan. Semua warga pun kompak bergotong-royong untuk mengurus korban. Dagingnya di potong dan dibagikan ke rumah rumah secara merata. Setiap Idhul Adha masjid Taqwa juga digunakan untuk melakukan ibadah sholat Idhul Adha. Biasanya hewan yang dikurbankan berupa dua ekor sapi dan tiga ekor kambing. Penyembelihan hewan kurban di lakukan disebelah utara masjid, karena disitu ada tanah kosong. Tempatnya pun lumayan luas sehingga cukup untuk mengurus kurban.
Selain idhul adha, saat Idhul Fitri pun dalam menjalankan sholat tarawih jamaahnya sangat ramai. Dalam satu masjid bisa penuh dan sampai ada yang diluar luar juga. Meski demikian tidak ada yang bisa menurunkan semangat para jamaah untuk slalu datang menikuti sholat tarawih meskipun harus sampai sholat di luar masjid.
Meski Masjid Taqwa beraliran Muhammadiyah, namun warga disekitar juga masih banyak yang memakai ritual dan kebudayaan islam. Di daerah pucangan ada beberapa keluarga yang masih melakukan tiga harian, tujuh harian dan seratus harian orang meninggal. Selain itu juga ada yang meggunakan budaya mithoni karena bertempatan di jawa terutama di daerah solo yang mempunyai banyak kraton sehingga budaya jawa  nya sangat masih kentel dan melekat pada setiap masyarakat.
Tiga harian itu dilakukan untuk mendoakan keluarganya yang telah meninggal tiga hari yang lalu. Sedangkan tujuh harian dan seratus harian pun sama. Mendoakan keluarga yang sudah meninggal itu biasanya dilakukan dengan membaca surat Yasin dan tahlil. Tujuan dari mendoakan tersebut yaitu agar orang yang didoakan tersebut diampuni dosanya, dihindarkan dari siksa neraka dan diberikan ketenangan. Dalam acara ini yang punya rumah biasanya mengundang para tetangga agar datang kerumahnya untuk bersama-sama membantu mendoakan. Setelah doa selesai semua yang hadir dijamu oleh pemilik rumah. Selain minuman juga ada makan ringan dan makanan berat juga.
Sedangkan mithoni merupakan tradisi atau budaya jawa yang masih sangat kental di daerah sini. Mithoni biasanya dilakukan apabila salah satu keluarga ada yang hamil selama tujuh bulan. Menurut kepercayaan saat hamil tujuh bulan itu sangat rawan jadi harus berhati hati.
 Setelah saya melakukan pengamatan serta observasi dengan turun ke tempat langsung dan mengalami wawancara dengan seorang narasumber, menurut saya berdirinya Masjid Taqwa dan budaya di daerah tersebut sangat berpengaruh dengan mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Alasanya yaitu karena masjid merupakan tempat untuk beribadah oleh umat islam, dan setiap tempat memiliki sejarah di dalamnya. Masjid taqwa itu sendiri banyak sekali yang dapat di ambil untuk topik pembicaraan. Dari mulai berdirinya masjid, tokoh di dalamnya, ritual , kegiatan dan kebudayaan di sekitar masjid seputar masyarakat di lingkungan tersebut.

Komentar

Postingan Populer